game theory dan diet

bernegosiasi dengan diri sendiri demi kesehatan masa depan

game theory dan diet
I

Pernahkah kita berjanji dengan sungguh-sungguh, "Mulai besok, saya pasti akan makan sehat"? Lalu keesokan harinya datang, dan tiba-tiba aroma martabak manis keju susu tampak seperti jalan kebenaran yang tidak bisa ditolak. Kita semua pernah berada di situasi itu. Seringkali, saat kita gagal menahan godaan, kita langsung menyalahkan tekad atau willpower kita yang lemah. Kita merasa bersalah dan menyebut diri kita tidak disiplin. Tapi, mari kita melihat fenomena ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Bagaimana kalau masalah utamanya sama sekali bukan pada tekad kita? Bagaimana kalau setiap kali kita mencoba diet, kita sebenarnya sedang duduk di depan papan catur, bermain melawan lawan yang paling licik dan mengenal kita luar dalam: diri kita sendiri? Selamat datang di dunia persimpangan antara sains, perilaku, dan lingkar perut kita.

II

Mari kita mundur sejenak ke pertengahan abad ke-20. Seorang matematikawan jenius bernama John Nash mempopulerkan apa yang kini kita kenal sebagai Game Theory atau teori permainan. Jangan bayangkan ini seperti bermain monopoli atau ular tangga. Ini adalah studi matematika yang serius tentang bagaimana kita mengambil keputusan strategis, terutama saat hasil akhirnya sangat bergantung pada keputusan pihak lain. Biasanya, teori ini dipakai oleh para ahli untuk memprediksi pergerakan ekonomi global, negosiasi politik, atau bahkan taktik Perang Dingin. Tapi hari ini, mari kita bawa teori rumit ini ke meja makan kita. Bayangkan ada dua pemain utama dalam permainan diet ini. Pemain pertama adalah Diri Kita Saat Ini (Present Self). Pemain kedua adalah Diri Kita di Masa Depan (Future Self). Present Self menginginkan kenikmatan instan. Dia melihat sepotong ayam goreng krispi dan berpikir, "Satu gigitan nggak akan bikin kiamat." Di seberang meja, Future Self punya agenda berbeda. Dia menginginkan umur panjang, tubuh yang bugar untuk bermain dengan cucu, dan hasil cek laboratorium yang membuat dokter mengangguk bangga. Masalah terbesarnya adalah, kedua versi diri kita ini sedang terjebak dalam apa yang disebut oleh para ilmuwan sebagai Prisoner's Dilemma.

III

Dalam skenario Prisoner's Dilemma, pilihan yang terlihat paling logis dan menguntungkan bagi individu di saat ini, seringkali justru menghasilkan bencana yang merugikan semua pihak di masa depan. Pertanyaannya, kenapa Present Self hampir selalu menang dan dengan teganya mengkhianati Future Self? Bukankah kita secara sadar tahu bahwa gula berlebih dan kolesterol tinggi itu berbahaya? Di sinilah sejarah panjang evolusi dan psikologi kita ikut bermain. Otak manusia yang kita pakai sekarang sebenarnya masih menggunakan software purba. Ratusan ribu tahun lalu, kalori adalah sesuatu yang sangat langka. Jika nenek moyang kita secara kebetulan menemukan madu atau buah yang sangat manis di hutan, otak mereka akan menyalakan alarm darurat: "Makan sebanyak-banyaknya sekarang sebelum direbut beruang!" Sains menyebut sistem eror bawaan pabrik ini sebagai hyperbolic discounting. Otak kita secara alami diprogram untuk memberi nilai yang jauh lebih tinggi pada hadiah yang ada di depan mata, dibandingkan hadiah besar yang abstrak dan baru akan datang sepuluh tahun lagi. Kesehatan jantung di usia enam puluh tahun terdengar seperti ilusi. Aroma piza hangat di depan hidung? Itu adalah realitas mutlak. Lalu, kalau otak kita memang sudah dirancang secara biologis untuk gagal diet, apakah kita hanya bisa pasrah pada keadaan? Tunggu dulu. Justru di titik inilah Game Theory akan menunjukkan keajaibannya.

IV

Rahasia memenangkan negosiasi ini bukanlah dengan memarahi atau memusuhi Present Self. Rahasianya adalah mengubah aturan main di atas papan catur tadi. Dalam Game Theory, jika kita ingin mengubah keputusan seseorang, kita tidak perlu memohon; kita hanya perlu mengubah struktur insentifnya. Pernahkah teman-teman mendengar kisah kuno tentang Odysseus (atau Ulysses) dari mitologi Yunani? Saat kapalnya harus berlayar melewati pulau para Siren—makhluk mistis yang nyanyiannya membuat pelaut terhipnotis lalu melompat ke laut dan mati—Ulysses tahu persis bahwa tekadnya pasti akan goyah. Jadi, dia melakukan strategi yang brilian. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mengikat tubuhnya kuat-kuat ke tiang kapal, lalu menyumbat telinga semua anak buahnya dengan lilin lebah. Dia mengubah aturan main sebelum godaan itu benar-benar datang. Dalam dunia psikologi modern, taktik ini disebut Ulysses Pact atau kontrak yang mengikat. Kita bisa menerapkan strategi yang sama persis pada diet kita. Jangan sekadar berjanji; buatlah komitmen yang tidak bisa dilanggar. Jangan simpan camilan manis di dapur rumah. Ubah rute jalan pulang dari kantor agar kita tidak perlu melewati restoran cepat saji favorit. Atau, buatlah taruhan yang menyakitkan dengan seorang sahabat: "Kalau bulan ini saya ketahuan minum kopi boba, saya harus transfer kamu lima ratus ribu rupiah." Tiba-tiba, segelas boba bukan lagi seharga tiga puluh ribu, melainkan lima ratus tiga puluh ribu. Kita baru saja berhasil meretas sistem otak purba kita. Kita mengubah penyakit jangka panjang yang abstrak, menjadi kerugian finansial jangka pendek yang sangat nyata dan menyakitkan bagi Present Self.

V

Mengubah pola makan dan gaya hidup itu luar biasa berat. Sains telah membuktikan hal itu, dan sejarah evolusi manusia membenarkannya. Jadi, mulai sekarang, mari kita berhenti menyiksa dan menyalahkan diri sendiri setiap kali kita gagal. Kegagalan diet bukanlah tanda kelemahan moral kita. Itu hanyalah hasil dari negosiasi yang buruk antara diri kita hari ini dan diri kita di masa depan. Teman-teman, memiliki tubuh yang sehat bukanlah tentang memiliki tekad baja layaknya seorang pahlawan super. Kesehatan adalah tentang seberapa pintar kita menjadi negosiator bagi nyawa kita sendiri. Mulailah mengikat diri kita ke "tiang kapal" dengan strategi-strategi kecil namun pasti. Berdamailah dengan Present Self yang selalu mencari kenyamanan, tapi pastikan Future Self tetap mendapatkan haknya untuk hidup sehat. Karena pada akhirnya, permainan negosiasi ini adalah satu-satunya permainan yang paling layak untuk kita menangkan.